Pesan Orangtua

Baca postingan PNS yang satu ini, aku jadi teringat pada nasehat orang tua (termasuk nenek dan budhe) dahulu kala, yang seringkali dilontarkan padaku dan sepupu-sepupu ketika sedang berkumpul bersama.

“Kalau laki-laki cari istri, carilah yang setia. Kalau perempuan cari suami, carilah yang bertanggung jawab.” Selalu begitu inti pesannya.

Pesan yang sederhana. Saking sederhananya, sampai-sampai saat itu aku (dan sepupu-sepupu yang seumuran) hanya manggut-manggut tanpa bisa menangkap maksud dari pesan itu. Cuma, saat itu aku (dalam hati) sempat berontak juga. Menurutku, selain bertanggung jawab, seorang suami yang ideal itu juga harus cakep kayak artis, harus kaya seperti pangeran di buku cerita, harus sepintar ilmuwan di buku IPA, harus romantis seperti para pujangga di pelajaran Bahasa Indonesia, de el el! Dan mungkin, sepupu-sepupu yang laki-laki juga punya pikiran senada. Bahwa istri yang sempurna itu bukan cuma harus setia, tapi juga secantik bidadari surga, seksi dan berkulit jelita, secerdas ilmuwan fisika, bertutur kata selembut sutera, de es be!

Ternyata, ketika aku mulai beranjak meninggalkan masa remaja, inti pesan itu menjadi semakin tampak nyata. Kondisi fisik dan harta, ternyata tak selamanya bisa menjamin bahagia. Keutuhan sebuah rumah tangga ternyata tak selalu bisa dikuatkan oleh kuatnya intelegensia. Lalu soal cinta? Itu pelajaran kesekian yang aku terima. Sepertinya bukan satu hal yang terlalu utama.

Yah, menurut pendidikan yang aku terima di dalam keluarga. Dalam suatu rumah tangga, seorang istri harus setia. Tak bisa ditawar. Karena dengan kesetiaan, ia bisa menjaga kehormatan suami dan keluarganya. Dengan kesetiaan itu, ia bisa mendampingi suami dengan apapun keadaannya. Ia juga bisa mendidik anak-anak dengan penuh cinta. Ia akan membangun keutuhan rumah tangganya dengan segenap jiwa dan raga.

Sementara itu, seorang suami harus bertanggung jawab. Ini juga tak boleh ditawar. Karena dengan rasa tanggung jawab yang besar, seorang suami tak akan pernah menghancurkan istri dan keluarganya. Tak tergerak untuk menyakiti orang-orang yang ada dalam tanggung jawabnya. Berusaha dengan segenap daya untuk membuat keluarganya bahagia.

Tak ada pelajaran tentang percintaan. Dengan tanggung jawab dan kesetiaan, cinta katanya bisa tumbuh begitu saja. Pelajaran simpel, tapi menurut saya penuh makna. Yah, semboyan hidup bagi keluargaku memang selalu sederhana. Berikan yang terbaik yang kamu bisa, dan jangan mengharapkan balasan apa-apa, bila kamu ingin bahagia. Begitu katanya.

Artikel yang mungkin terkait: Kriteria Suami Impian vs Keajaiban Cinta.

About Fa

Just Fa! tukang masak di http://daridapur.ardifa.com tukang ngomel di http://ardifa.dagdigdug.com
This entry was posted in cerita aja. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pesan Orangtua

  1. abdee says:

    wakkss….
    mendalem bangettt….

    memberi pencerahan..

  2. Fa says:

    tumben yah saya nulisnya agak seriyus di sini :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>