Ngaku. Aku jatuh cinta tiga kali pada buku ini. Pertama, saat melihat sampulnya. Kedua, saat membaca sedikit ringkasan di sampul bagian belakang. Dan ketiga, saat aku telah menuntaskan membaca isinya.
Aku seperti merasakan bahwa Ollie sedang menulis semua tentang aku, meski dalam versi cerita yang tak sama.
Semua tentang pernik-pernik pernikahan seolah ditumpahkan semuanya oleh Ollie. Dalam bahasa yang sederhana, lancar dan tak mengada-ada.
Aku yakin, semua yang membaca novel ini akan tersadar, bahwa drama sesungguhnya baru akan dimulai setelah pesta pernikahan usai. Segala perjuangan (mungkin), untuk meraih gerbang pernikahan, hanyalah sebuah ritual pemanasan sebelum memasuki medan perjuangan yang sesungguhnya.
Seperti terasa berat sekali ya? Tapi sangat indah. Dan keindahan pernikahan itu disimpulkan dengan manis di paragraf terakhir yang menjadi pemungkas cerita.
Sekarang, Barra baru menyadari, rumah tangga menjadi tempat yang tepat untuk belajar lebih dalam tentang hidup. Dan, keluarga menjadi jawaban untuk kebahagiaan yang sebenar-benarnya.
Berbahagialah orang yang pernah menikah, dan lulus dalam pernikahannya. *meluk2 si tuan*.