ibarat sebuah perpustakaan besar
yang dimiliki oleh seorang penulis
di dalamnya banyak sekali buku-buku
yang dia tulis sendiri dan kebanyakan
ditulis untuk dirinya sendiri…
ibarat sebuah perpustakaan besar
yang dimiliki oleh seorang penulis
di dalamnya banyak sekali buku-buku
yang dia tulis sendiri dan kebanyakan
ditulis untuk dirinya sendiri…
Mempunyai satu sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri.
Apa yang kita alami demi teman kadang-kadang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mempunyai nilai yang indah.
Persahabatan sering menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan bertumbuh bersama karenanya…
Entah karena timingnya lagi pas, atau memang karena syairnya ‘dalem’, tapi tadi pas ndak sengaja liat video klipnya d’Masiv yang judul lagunya Jangan Menyerah, aku terharu banget…
Sampe mau nangis, sampe sesak dadaku

“Tuhan, sebagaimana Engkau telah mempercantik wajahku, tolong percantiklah budi pekertiku…”
*potonya kecil aja*
Iya dan tidak, adalah dua kata yang sangat sederhana. Tapi tak jarang, kita merasa cukup berat untuk mengucapkannya. Sebab banyak hal rumit yang kadang menyertai dua kata sederhana itu.
Meski begitu, berada di antara iya dan tidak itu sangat tak nyaman. Karena itu, seberapapun berat dan susahnya, sebaiknya kita tak menunda-nunda untuk mengatakan iya atau tidak. Apalagi jika itu menyangkut perasaan atau status seseorang
mimpi adalah kunci
untuk kita menaklukkan dunia
berlarilah tanpa lelah
sampai engkau meraihnya
Masih ingat kan pada sepenggal syair dari sountrack film Laskar Pelangi itu? Saya jadi ingat sama satu kalimat yang pernah diucapkan salah seorang guru semasa masih SMU..
Milikilah mimpi sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, meski kita sama sekali tak punya jaminan bahwa kita akan memiliki cukup masa untuk meraihnya.
Ada seorang ibu di komplek rumahku, setiap belanja di tukang sayur keliling selalu membawa kresek/kantong plastik dari rumahnya. Dan saya, selalu menyediakan beberapa tas kresek di dalam tas yang saya bawa kemana-mana. Tujuannya sama, agar kita tak perlu meminta tas kresek baru setiap kali belanja.
Bukannya gimana-gimana, bukannya mau sok idealis atau yang semacamnya. Saya sadar kok klo saya itu (dan sebagian besar dari kita) sudah sangat tergantung sama yang namanya plastik, betul? Ndak percaya? Coba lihat ke sekeliling sampeyan
Jadi perempuan, jangan terlalu pede. Itu pesan singkat yang aku ingat dari budheku, beberapa tahun yang lalu.
Pesan itu, disampaikan pada salah seorang sepupuku, yang waktu itu ketahuan pacaran sama mantan playboy kampus
Pesan komplitnya sih kurang lebih begini:
Apalagi yang harus ku katakan padamu tentang hidup? Dari sisi waktu, kau jelas telah menggumulinya lebih lama dariku. Meski itu tak menjamin bahwa kau lebih tahu, tapi setidaknya, aku tak dapat menjelaskan apa-apa lagi padamu.
Sudahlah, jangan kita terbiasa bicara ’seharusnya’. Karena tak ada yang bisa berjalan dengan ’semestinya’ yang semata-mata versi kita. Tak bijak bila kau mengharuskan orang lain melakukan apa yang masuk akal bagimu, sementara kau tak peduli apakah yang kau lakukan sudah masuk akal bagi orang lain.
Hidup tak hanya berjalan dalam standarmu. Aku rasa, hanya itu yang perlu kamu pahami.
Kadang batas antara keduanya sangat samar dan tipis. Sehingga apa yang sebenarnya mudah bisa terlihat susah, dan apa yang sebenarnya susah kadang terlihat mudah.
Makanya, coba dulu kerjain yang bener, belajar yang bener, jangan males duluan gara-gara menganggap hal itu susah.
*menasehati diri sendiri*